23 November 2013

4 Pandangan Buruk Australia Terhadap Indonesia

Headline
Beragam pandangan masyarakat Australia mengenai Indonesia. Ada yang baik, ada pula yang menyudutkan. Bahkan tidak sedikit pula yang menghina.

 
Pandangan itu bisa muncul karena ketidaktahuan, kesalahan informasi, maupun stigma yang sudah tertanam sejak lama. Itulah mengapa hubungan Indonesia dan Australia selalu diwarnai pasang surut. Ada kalanya menghangat, ada kalanya pula memanas.

Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Newspoll atas permintaan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) pada 2012 misalnya, terlihat adanya perbedaan pandangan antara pemerintah dengan masyarakatnya dalam melihat Indonesia. Ketika pemerintah kedua negara saling berpelukan, tidak demikian dengan masyarakatnya.

Berikut beberapa pandangan masyarakat Australia mengenai Indonesia yang disarikan dari berbagai sumber.

Tidak Demokratis

Headline
Dari survei Newspoll tersebut terungkap bahwa sebagian besar masyarakat Australia memandang Indonesia bukanlah negara demokratis. Sebagian besar (53%) memandang bahwa Indonesia dijalankan dengan syariat Islam. Hanya 47% yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara demokratis.
Pendapat tersebut bisa dipengaruhi berbagai hal. antara lain masih tertanam di benak mereka bahwa Indonesia masih seperti ketika di bawah Soeharto.

RI Ancaman Bagi Australia

Headline
Survei Newspoll juga menyebutkan hampir separuh dari orang Australia yang disurvei menganggap bahwa Indonesia adalah ancaman bagi keamanan Australia. Ini memang bukan hal baru sebab untuk pertama kalinya Indonesia dipandang sebagai ancaman ketika Indonesia menginvasi Timor Timur
Sejak 1980-an, Australia menganggap Indonesia sebagai negara yang paling bakal mengancam. Sebuah survei pada 1993 juga menyebutkan bahwa 57% orang Australia percaya bahwa Indonesia bisa mengancam keamanan Australia dalam 15 tahun mendatang.

Semakin Kuat, Semakin Mengancam Keamanan

Headline
Hugh White, seorang profesor studi strategis di Australian National University dan visiting fellow di Lowy Institute menulis sebuah artikel di The Age, dengan judul Indonesia's rise is the big story we're missing: Can Australia handle having a stronger, richer neighbour?
Dalam pandangan White, semakin kuat Indonesia, semakin mengancam pula Indonesia terhadap Australia. Semakin maju perekonomian Indonesia, semakin maju pula militernya. Saat itulah, Indonesia benar-benar menjadi ancaman bagi Australia.
White menulis, sekarang kondisinya sudah berbeda. Jangan pernah berpikir bahwa Indonesia membutuhkan bantuan dan Indonesia akan berterima kasih. Yakinlah bahwa tak ada seorangpun yang mau menerima belas kasihan dari orang lain, terutama dari tetangga. Siapapun yang menawarkan bantuan justru akan mendapat cakaran daripada ucapan terima kasih.
Yang terjadi sekarang, semakin Indonesia tumbuh, semakin banyak bantuan yang justru merusak, bukannya menciptakan hubungan sebagaimana yang diharapkan Australia.

Sarang Koruptor

Headline
Dari survei Newspoll, terungkap pula bahwa lebih dari dua pertiga orang Australia melihat Indonesia sebagai sarang koruptor, dan hanya seperempat yang menilai Indonesia sudah memiliki sistem politik yang baik. Para peneliti meyakini, selama prasangka masih menang atas fakta, tampaknya akan selalu ada risiko para politisi Australia bermain-main dengan prasangka itu, untuk memperoleh keuntungan politik sesaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar